Menjelajahi Pulau Pulau di Kepulauan Seribu

PULAU Tidung di Kepulauan Seribu boleh jadi sedang tren bagi pelancong dari Jakarta. Namun, kepulauan yang paling dekat dengan Ibu Kota ini sebenarnya punya pulau-pulau lain yang tak terlalu populer, tapi tetap menarik.

Jika dicermati dengan benar, Kepulauan Seribu adalah tempat wisata yang cenderung paling praktis dan murah meriah bagi pelancong dari Jakarta. Pertama, perjalanannya bebas macet karena sepenuhnya mengandalkan transportasi laut. Gugusan pulau yang terdekat bisa dicapai tak lebih dari 30 menit.

Coba bandingkan jika berwisata ke luar kota, seperti ke Puncak, Bogor, atau ke Bandung yang memakan waktu hingga berjam-jam. Jika dari Jakarta, titik keberangkatan bisa dipilih, yaitu dari Dermaga Marina Ancol atau Pelabuhan Muara Baru, Muara Angke.

Kedua, pelancong bisa melakukan island hopping atau mengelilingi beberapa pulau dalam satu kesempatan.

Untuk melakukannya, beberapa pelancong bisa pergi bersama dan menyewa speedboat, kapal yacht, atau kapal kayu nelayan. Harganya tentu saja tergantung pulau-pulau yang ingin dikunjungi. Misalnya saja, untuk speedboat kapasitas 28 orang dengan tujuan Pulau Bidadari, Ayer, dan Onrust, seharga Rp4 juta.

Untuk kapal yacht yang lebih mewah dengan kapasitas sekitar 25 orang dengan tujuan empat pulau- pulau yang berdekatan semisal Pulau Edam, Onrust, Untung Jawa, dan Rambut, ditaksir sekitar Rp5 juta.

Untuk kapal kayu nelayan harganya bisa jauh lebih murah. Jika ingin menggunakan kapal penumpang biasa, umumnya hanya berlabuh di pulau-pulau yang berpenghuni, seperti Pulau Untung Jawa atau Pulau Pramuka.

Keuntungannya, biaya lebih murah, namun tidak bisa melakukan island hopping. Karena kemudahannya, pulau-pulau di Kepulauan Seribu kini semakin dilirik para pelancong, khususnya yang berasal dari Jakarta .

Nah, pekan lalu harian Seputar Indonesia berkesempatan untuk mengikuti kegiatan “Wisata Edukasi” mengelilingi empat pulau di Kepulauan Seribu bersama Production House (PH) Tender Indonesia, yang juga membuat program perjalanan wisata, Backyard Adventure, yang tayang di salah satu televisi lokal di Jakarta. Pulau-pulau yang dikunjungi, antara lain Pulau Edam atau Damar, Pulau Onrust, Pulau Untung Jawa, dan Pulau Rambut. Berikut petikan perjalanannya.

PULAU EDAM/DAMAR

Pulau ini memang punya banyak nama. Nama resminya sebenarnya Pulau Edam. Namun para nelayan kerap menyebutnya sebagai Pulau Damar. Konon kabarnya, Pulau ini dulu banyak ditumbuhi pohon damar. Sedangkan orang Jakarta malah menyebutnya pulau monyet.

Pulau Edam menjadi tujuan pertama perjalanan kami. Dengan menggunakan kapal yacht dari Marina Ancol, kami hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk sampai.

Perjalanan tidak terlalu terasa karena kapal yacht yang kami tumpangi sangat nyaman, dilengkapi AC, ruang tamu, dan televisi besar yang bisa digunakan untuk karaoke. Sampai di Pulau Edam , tak banyak orang yang dijumpai.

Tentu saja, karena ini memang pulau yang tak berpenghuni. Saat kami datang, hanya ada beberapa orang yang sedang memancing. Namun bukan berarti tak ada yang bisa dilihat di Pulau Edam. Daya tarik utama pulau ini ialah mercusuar setinggi 65 meter yang dibangun pada 1879 dan masih terus digunakan hingga kini.

Lebih hebat lagi, sampai saat ini mercusuaryang dibangun di zaman raja Belanda ZM Willem II ini belum pernah direnovasi sama sekali. Bangunan luarnya masih sangat kuat, khas bangunan Belanda.

Mercusuar itu sendiri dibuat dari pelat besi yang digabungkan dengan baut dan mur. Nah, mercusuar inilah yang agak kurang terawat. Saat kami menaiki tangga sebanyak 16 lantai, anak tangga dan pegangan tangga banyak yang sudah berkarat. Jendela-jendelanya pun banyak yang tak lagi berkaca. Meski agak mengenaskan, namun begitu sampai di puncak mercusuar, pemandangan indah sudah menanti.

Dari ketinggian kurang lebih 65 meter, Teluk Jakarta yang biru menghampar luas, berpadu dengan hutan Pulau Edam, langit biru, plus gedung-gedung kota Jakarta yang samar terlihat. Di pinggir pantai jelas terlihat perubahan warna air dari hijau ke biru.

Selagi mengagumi pemandangan tersebut, angin sepoi-sepoi nan sejuk menyapu wajah kami. Sungguh menyenangkan. Karena nikmatnya berada di atas mercusuar, banyak dari kami yang enggan turun, malah terus sibuk berfoto-foto.

Setelah turun dari mercusuar, kami berbincang sejenak dengan salah satu penjaga mercusuar, Bapak Ngadi. Dia menjaga mercusuar bersama rekannya, selama minimal enam bulan. Berdua saja tinggal di satu pulau memang sulit dibayangkan oleh kami yang terbiasa dengan hiruk-pikuk Jakarta. Mungkin untuk mengatasi kesepian itu pula, keduanya mengasuh dua ekor anjing jantan.

“Lumayan untuk teman bermain,” kata Pak Ngadi.

PULAU ONRUST

Pulau kedua yang kami kunjungi ialah Pulau Onrust. Pulau ini jelas lebih populer daripada Pulau Edam dan dikenal karena banyak menyimpan peninggalan VOC saat Belanda menguasai Batavia.

Satu hal yang menandakan kalau pulau ini diplot sebagai tempat wisata ialah banyaknya warung makan yang berdiri di tempat ini, walau nyatanya hanya buka di akhir pekan saja. Daya tarik pulau ini ada pada sisa-sisa reruntuhan rumah sakit dan reruntuhan asrama haji yang pernah dipakai tahun 1930-an.

Reruntuhannya memang hanya menyisakan sisa-sisa tembok hingga tak tampak jelas kalau reruntuhan tersebut adalah bekas rumah sakit atau asrama haji. Hanya keterangan yang terpampang di depan reruntuhan yang menjelaskan fungsi bangunan tersebut di masa lalu.

Melihat ruangan yang tak seberapa luas dengan daya tampung sebuah ruangan asrama, tampaknya satu ruangan bisa sangat penuh sesak oleh calon jamaah haji. Di tengah-tengah pulau berdiri satu bangunan yang digunakan sebagai museum.

Museum ini dipenuhi gambar-gambar yang menandakan kesibukan luar biasa di pulau tersebut akibat adanya kegiatan bongkar muat logistik perang di zaman penjajahan Belanda.

Banyak pula benda-benda arkeologi atau sisa barang peninggalan Belanda, mulai dari tempat makan sampai sepatu besi yang berfungsi sebagai borgol bagi para narapidana yang ditahan di pulau tersebut.

Selain itu, pulau ini juga menjadi tempat pemakaman bagi para elite Belanda, termasuk seorang putri raja. Nisan putri ini dihiasi puisi dari suaminya. Beberapa orang kerap mendatangi makam ini sekaligus memberi sesajen makanan atau minuman. Saat kami datang ke makamnya, ada sesajen unik berupa sekaleng minuman keras yang ditaruh di pinggir nisan.

Menurut guide tourkami,beberapa penziarah memang sering memberi sesajen yang unik. Selain makam para petinggi Belanda, ada juga para narapidana yang meninggal di pulau. Konon kabarnya, makam pemimpin pemberontakan DI/TII, Kartosoewirjo ada di pulau ini. Karena banyak makam pula, banyak beredar kabar yang berbau mistis di pulau ini.

Meski begitu, kabar seram mengenai Pulau Onrust tak menyurutkan warga Jakarta untuk menginap dan bermalam di sini dengan tenda. Saat malam tahun baru, banyak juga warga Jakarta yang memilih datang untuk sekadar melihat pesta kembang api dari Jakarta yang jelas terlihat dari pulau ini.

PULAU UNTUNG JAWA

Pulau ini dikenal sebagai desa wisata nelayan. Sesuai julukannya, di sinilah tempat yang tepat untuk melahap berbagai makanan laut yang disajikan dengan berbagai macam cara, dari digoreng sampai dibakar.

Di sini pula rombongan kami menyantap makan siang sambil menatap ke pantai yang luas. Pulau Untung Jawa termasuk pulau yang ramai penghuninya. Selain menampung banyak rumah makan seafood, pulau ini juga kerap menjadi tempat berlibur dan beristirahat.

Ketika kami berkunjung ke sini, beberapa rombongan anak muda usia sekolah, yang jika ditilik dari dandanannya adalah anak muda Jakarta, tampak asyik berkeliling pulau, naik sepeda, atau sekadar bermain air di pantai.

Daya tarik lainnya di pulau ini ialah area hutan bakau atau mangrove yang cukup luas. Pengunjung bisa dengan nyaman berjalan di area yang sudah disediakan hingga bisa menikmati tanaman bakau yang erat melekat di tanah. Jika diperhatikan dengan jelas, biji-biji tanaman bakau yang jatuh ke tanah bisa dengan sendirinya menciptakan pohon bakau yang baru.

Sungguh ajaib, karena tampaknya tanpa dirawat pun tanaman bakau bisa tumbuh terus untuk melindungi pantai dari erosi dan air rob (air pasang). Sayangnya, di area ini banyak sampah (yang tampaknya dari Jakarta) yang tersangkut di sela-sela tanaman bakau.

Saat berada di area hutan bakau, jalan terus sampai ke pantai. Di wilayah pantai akan ditemukan tanaman-tanaman bakau yang tumbuh dangkal agak jauh ke pantai. Tempat ini cukup indah untuk dijadikan spot untuk berfoto.

PULAU RAMBUT

Pulau terakhir yang kami kunjungi ialah Pulau Rambut, akrab dengan julukan Pulau Kerajaan Burung.Tak heran, karena sekitar 20.000 burung hidup di pulau ini. Pada bulan Maret sampai September jumlahnya bisa meningkat karena ada migrasi dari Australia dan India.

Untuk melihat dengan jelas burung-burung yang bertebaran serta hutan yang melingkupi pulau, silakan naik ke menara yang terletak di tengah hutan. Di atas, keinginan melihat berbagai jenis burung bisa terpuaskan.

Hutan Pulau Rambut juga tergolong unik. Pasalnya, berbagai pohon “aneh” bisa dijumpai di dalamnya. Saat kami menyusuri hutan ini, kami menemukan pohon besar tumbang yang melintang di tengah jalan, namun akarnya masih tumbuh terus.

Menurut petugas Pulau Rambut, akar pohon digigit kepiting, namun tetap tumbuh sampai sekarang. Masuk lebih ke dalam, kami menemukan pohon yang cabangcabangnya membelit erat pohon yang ada di sebelahnya.

Jika dilihat dengan cermat, pohon itu seperti memeluk pohon di sampingnya. Sambil bercanda, petugas mengatakan pada kami bahwa itu adalah “pohon cinta setengah mati”.

Keanehan tak berhenti sampai di situ. Dalam perjalanan, kami juga menemukan pohon tumbang yang akarnya sangat indah. Lebih masuk lagi ke dalam,kami juga menemukan beberapa tanaman bakau. Saat beristirahat di tengah hutan, rasanya kami benar-benar berada di tengah hutan yang lebat. Kicauan burung terdengar di telinga. Sungguh sebuah harmoni yang indah

Sumber: lifestyle.okezone.com

One thought on “Menjelajahi Pulau Pulau di Kepulauan Seribu

Comments are closed.