Pada dasarnnya ada 5 primsip yang selalu saya terapka sewaktu mancing dasar dilaut
yaitu :
1. Persiapan kapal. Tentu kapal yang kita akan gunakan harus layak laut, dan di haruskan ada pelampung penyelamat untuk semua orang yang ada di kapal, dan radio komunikasi. Selanjutnya jangkar yang baik beserta tali jangkar minimal 150m (untuk memancing di kedalaman sekitar 30 sampai 50m).
2. Persiapan alat-alat pancing. Sering terjadi pemancing kelupaan membawa mata kail atau pemberat yang sesuai saat berangkat ke laut. Periksalah apakah peralatan piranti pancing sudah ada semua, seperti mata kail, pemberat, kili-kili, kenur, neklin, pisau, gunting, joran dan reel. Pancing kotrekan untuk mencari umpan. Umpan segar seperti cumi (yang masih utuh kepalanya) atau umpan yang lainnya.
3. Menentukan lokasi dan jenis ikan yang akan dipancing. Biasanya pemancing sangat tergantung sama kapten kapal atau pawang untuk menentukan lokasi yang akan dipancingi.
Jikalau ingin mencari ikan tenggiri misalnya, tentu faktor musin ikan tsb, kawlitas air laut, arus, angin dan umpan memegang peranan penting. Tinggal menentukan karang atau lokasi mana yang akan dipancingi.
Mencari lokasi mancing tenggiri tidaklah sulit, karena pada umumnya pawang yang kita sewa sudah tahu tempat-tempatnya.
Sebaliknya kalau memancing ikan dasar seperti kakap merah agak sulit mencari lakasi yang bagus, kecuali kami mempunyai rumpon sendiri. Namun demikian kalau ada rumpon juga tidak bisa memjamin bisa mendapatkan kakap merah yang memadai, karena setelah 2 atau 3 kali mancing dirumpan tsb ikan kakap merah akan habis, dan rumpon tersebut juga harus ditambah daun kelapa setiap paling lama 6 bulan sekali. Saya sendiri lebih suka mancing dasar di tandes dimana orang lain masih belom pernah memancinginya. Mencari tandes ada dengan 2 cara, jaitu cara tradisionel dan cara moderen. Cara tradisionel diterapkan oleh nelayan dengan mencari ikan -ikan yang bergerombolan di permukaan laut, atau burung-burung yang selalu mengelilingi satu titik tertentu. Lalu nelayan tsb menurunkan alat lot yaitu besi beton atau timah yang panjangnya sekitar 10cm dan diikat dengan kenur sampai kedasar laut, lalu mereka merasakan getaran alat lot tsb begitu nenyentuh dasar laut, kalau getarannya keras itu tandanya dasar laut pasir atau karang, berarti tandes, Kalau getarannya lembut itu tandanya lumpur. Tentu dengan cara ini membutuhkan pengalaman yang baik.
Dan cara moderen adalah menggunakan fishfinder, namun masih banyak sekali pemancing kita yang telah mempunyai alat tersebut masih belum bisa menggunakannya secara optimal. Masih banayk sekali mereka memasang transduser (pemancar dan penerima gelombang suara) tidak tepat sehingga kalau kapal berlaju diatas 8 kt gambar yang ditampirkan dilayar fishfinder sudah tidak bisa kebaca. Hal inilah yang nenyebabkan mereka tidak bisa mendapatkan tandes baru.
4. Ketepatan berlabuh kapal. Kalau lokasi mancing sudah di temukan, tentu kita harus melego jangkar supaya bisa memancing tepat didepan lokasi tandes. Jikalau tandes tersebut kecil, contohnya tandes yang kami sebutkan tandes buntut, dimana biasanya kakap merah jumbo berada. Tandes ini sangat kecil mungkin 5mx5m, kalau tidak tepat berlabuh jangkar jangan harap bisa dapat ikan tsb. Disinilah melego jangkar memerlukan
ketepatan. Saya selalu melepaskan 2 plontang yang dipasang bendera, dan diikat dengan tali plastik sesuai kedalaman air, dengan pemberat timah 5kg, diatas tandes tsb. Dengan cara ini mempermudah melabuh jangkar.
5. Teknik menancing. ……………
Article by Bobby Halim
