Bisnis.com http://web.bisnis.com/sektor-riil/agribisnis/1id183605.html dalam laporan nya berjudul ” RI ekspor rumput laut milik 25 perusahaan” melaporkan Produksi rumput laut dari kepulauan seribu sebagai berikut:
Produksi budi daya terumbu karang di Kepulauan Seribu yang melibatkan 25 perusahaan swasta dan masyarakat setempat mencapai 100.000 pieces per tahun yang diekspor ke sejumlah negara.
“Harga rata-rata setiap pieces terumbu karang yang dijual berkisar US$10 hingga US$30 per pieces. Produksi tertinggi yang pernah dicapai terjadi pada 2007 yang mencapai 180.000 pieces, tapi dalam dua tahun terakhir mulai menurun dari 120.000 pieces tinggal 93.000-an pieces yang terjual,”ujar Kepala Balai Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu (TNLKS) Joko Prihatno usai melakukan transplantasi karang dalam rangka Hari Keanekaragaman Hayati, hari ini.
Produksi terumbu karang atau dikenal re-stocking komoditas biota laut itu, kata joko, hanya diperkenankan sebesar 10% hingga 15% yang dapat dibuat untuk kebutuhan ekspor. “Sebagian besar produk terumbu karang yang ada dikembalikan ke laut, petani wajib melakukan re-stocking 120.000-an karang per tahun dan hanya 10% hingga 15% yang diizinkan untuk dijual atau diekspor ke berbagai negara,”katanya.
Pelibatan masyarakat dalam budi daya terumbu karang, katanya, merupakan solusi yang terbaik untuk melestarikan terumbu karang yang berada di Kepulauan Seribu seluas 107.489 hektare (ha). “Dari jumlah itu, hanya 34 luas areal tumbuhan terumbu karang di kawasan tersebut,”katanya.
Pada 2003, lanjutnya, luas tutupan terumbu karang di Kepulauan Seribu hanya berkisar 30%. “Gencarnya budi daya terumbu karang yang dilakukan masyarakat dan swasta serta pengawasan yang ketat dari pemerintah terhadap lingkungan sekitar telah menaikkan luas tutupan terumbu karang menjadi 34% atau naik 4%. Namun, prosentase itu masih kecil sehingga perlu kerjasama intensif dengan masyarakat untuk meningkatkan jumlah terumbu karang di kawasan TNLKS ini,” ungkapnya.
Transplantasi atau pencangkokan terumbu karang itu, katanya, bukan merupakan solusi satu-satunya dalam mempertahankan kawasan terumbu karang. “Sebelumnya terjadi kerusakan akibat dari penangkapan ikan yang berlebihan atau overfishing dengan menggunakan alat seperti potassium, sianida maupun bom, mengakibatkan terjadinya degradasi keanekaragaman hayati pada taman nasional.”
Pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan ke 25 perusahaan melakukan transplantasi terumbu karang telah meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar yang sebelumnya Rp1 juta per bulan, naik sekitar Rp3 juta hingga Rp5 juta per bulannya. Petani terumbu karang binaan TNLKS yang terlibat mencapai 200 orang dengan dibagi beberapa kelompok.
Hampir semuanya, kata Joko, ikut menjaga kelestarian terumbu karang yang dikembangkan di kelurahan Pulau Panggang, kecamatan Pulau Pramuka, Kepualauan Seribu. Dari 212 spesies terumbu karang, kata Joko, baru 24 jenis yang bisa di rehabilitasi dan di kembangkan petani dengan metode tradisional seperti rockfiles.
Selain rockfiles ada dua metode lain seperti firmblocked dan pola pasta. “Namun, keduanya membutuhkan biaya besar sehingga membutuhkan keterlibatan adopter atau investor,” jelas Joko.
Saat ini TNLKS sudah menjalin kerjasama dengan sejumlah pihak seperti GTZ (dari Jerman) atau JICA (Jepang) yang sudah membantu merestoking 640 terumbu karang tahun ini. Kedua pihak itu menilai terumbu karang sebagai biodiversitas yang perlu ditangani serius.(msb)
Originally posted 2010-05-27 16:08:18. Republished by Blog Post Promoter
