JAKARTA– Sekitar 82 anak korban Situ Gintung mengikuti kegiatan pesantren alam yang diadakan oleh yayasan Al Azhar Peduli Umat. Kegiatan pesantren alam ini berlangsung di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu, dari tanggal 28 hingga 30 Agustus 2009.
Acara yang digelar dalam menyambut bulan suci Ramadhan 1430 H, diikuti oleh 37 santri wanita dan 45 santri pria. Seluruh peserta merupakan anak-anak korban Situ Gintung yang tinggal di pengungsian dan tempat penampungan sementara. Anak-anak ini terdiri atas siswa SLTP dan SMA. Umumnya mereka kehilangan sanak saudaranya akibat tragedi Situ Gintung, Maret silam.
Menurut Manajer Program Al Azhar Peduli Umat Agus Nafi’, tema dari pesantren alam ini adalah ‘Dengan Kata, Ubah Duniamu’. “Salah satu tujuan dilangsungkannya acara ini adalah untuk menyembuhkan trauma anak-anak korban Situ Gintung,”tandas Agus
“Kebanyakan anak-anak itu menderita trauma, jadi susah untuk mengungkapkan isi hati mereka untuk berani bermimpi. Biar nanti rasa traumanya bisa hilang dan mencoba membangun rasa optimisme mereka,” tambah Agus.
Anak-anak yang kebanyakan masih tinggal di pengungsian Kertamukti II, Ciputat itu di bawa ke Kepulauan Seribu, agar mendapatkan suasana fresh yang baru. Para anak korban Situ Gintung itu, juga berusaha disembukan traumanya dengan mengambil lokasi yang menyeberangi laut. “Tapi ternyata anak-anak tidak terlalu takut,” jelas Agus.
Pesantren yang digelar pada Jumat-Minggu (28-30/8/2009) ini selain mengajarkan tentang motivasi dan berani bermimpi, tak ketinggalan pula gemblengan amaliah Ramadan, seperti salat wajib berjamaah, salat tarawih, salat malam, tadarus Al Quran dan sebagainya.
Pada hari pertama, Jumat (28/08) peserta lebih banyak menghabiskan waktu untuk beristirahat. Materi di hari pertama lebih di fokuskan pada keagamaan yaitu mengenai ibadah puasa Ramadhan.
Hari kedua, Sabtu (29/08) banyak di isi dengan materi edukasi. Peserta banyak diberi materi mengenai ilmu jurnalistik. Materi yang diberikan antara lain teori menulis jurnasistik, aktualisasi jurnalistik, kreatifitas menulis, serta kemampuan visualisasi.
Kemudian, acara hari ketiga, Sabtu (30/08) acara lebih di fokuskan pada kegiatan penyegaran dan rekreasi. Para peserta diperkenankan untuk berkeliling pulau untuk menikmati pemandangan sekitar Pulau Untung Jawa.
“Harapan kita supaya mereka membawa kebiasaan baik, bisa belajar dengan semangat luar biasa dan tetap pede dan optimis menghadapi masa depan mereka,” harap Agus akan manfaat acara bagi peserta.
Aktif
Dalam pengamatan Republika, para peserta sangat antusias dalam mengikuti jalannya acara. Tak jarang mereka aktif bertanya pada narasumber saat pemberian materi berlangsung. Canda dan gelak tawa turut pula mengiringi jalannya acara.
Salah satu bagian acara yang sangat diminati peserta, adalah materi mengenai kreatifitas menulis.”Ayo tuliskan 3 berita yang paling heboh satu tahun belakangan ini,” ujar salah satu panitia, Abot, memberi arahan pada peserta.
Dalam acara ini peserta diminta untuk menuliskan tiga peristiwa terbesar di dunia dalam kurun waktu satu tahun terakhir.
Hampir seluruh pesrta menempatkan tragedi Situ Gintung sebagai peristiwa terbesar di dunia. Sebagian peserta juga ada yang menuliskan peristiwa lain, mulai dari kasus Manohara, meninggalnya Michael Jackson hingga peristiwa pemukulan yang dilakukan Pasha Ungu terhadap Okky Agustina.
Setelah menulis tiga peristiwa yang dianggap terbesar dalam setahun, mereka di minta untuk merangkai ketiga peristiwa itu untuk di jadikan satu cerita dalam imajinasi mereka.
Salah satu peserta, Adi (14), menuliskan tiga peristiwa yakni tragedi Situ Gintung, Manohara, dan pemboman Noordin M Top. Adi kemudian menuliskan cerita dengan imajinasinya, “Manohara kabur dari Malaysia. Hal ini membuat Noordin berang hingga melakukan tindakan pengeboman di Indonesia. Saat dicari polisi Noordin bersembunyi di salah satu rumah di Gintung, tapi sial baginya Situ Jebol dan dirinya hanyut diterjang ombak,” tulis Adi dalam secarik kertas.
Sang pemberi materi, Abot mengemukakan, jika tujuan dari pemberian materi tersebut untuk menghilangkan bayangan trauma anak-anak akan tragedi Situ Gintung. “Ya ini supaya membuat imajinasi mereka berkembang. Menggali pikiran liar dan kalau sudah begitu nanti menjadi kreatif,” tutur Abot.
Bagi para peserta pesantran alam ini, acara bukan hanya untuk menyegarkan pikiran dan mengilangkan trauma pasca tragedi Situ Gintung, namun juga sebagai wahana mereka untuk rekreasi dan belajar.
Salah satu peserta, M Yussuf (15) mengatakan, kegiatan acara pesantren alam sangat berguna baginya karena mengandung sisi edukasi. Dalam acara ini, Ucup, biasa ia dipanggil, mendapat pelajaran tak hanya soal keagamaan namun juga pengetahuan umum. “Seneng Mas, dapat ilmu-ilmu baru yang sebelumnya saya tidak tahu,”ujarnya
Pendapat lain dikemukakan oleh Adi. Ia mengatakan jika acara ini menambah kedekatannya dengan bocah-bocah lain sesama korban tragedi Situ Gintung. “Sebagian pesertanya baru kenal di acara ini, jadi makin banyak teman dan kenalan dari acara ini,” tutur Adi.
Menurut Manajer Program Al Azhar Peduli Umat , Agus Nafi’, dengan berlangsungnya acara ini diharapkan anak-anak korban Situ Gintung mampu membangkitkan optimismenya dalam menyongsong masa depan. “Kita harap saat mereka membaur kembali ke masyarakat, mereka tidak merasa canggung. Kami berharap mereka tumbuh rasa optimismenya dalam menatap masa depan,” pungkas Agus Nafi. (c02/rin)
By Republika Newsroom
Originally posted 2009-09-01 04:21:26. Republished by Blog Post Promoter
