Tak ada lagi alat transportasi yang dapat diandalkan untuk mengangkut lonjakan penumpang di Kepulauan Seribu, kecuali kapal angkut penumpang tradisional atau yang disebut ojek.
Pasalnya, Pemerintah Kabupaten Administrasi Kepulauan (Pemkab Kep) Seribu hingga saat ini belum mampu menyediakan kapal yang lebih layak meski di Pelabuhan Marina Jaya Ancol telah ada 4 kapal cepat KM Kerapu dan 2 KM Lumba-lumba. Kendati ojek kerap dinilai tidak layak dari sisi keselamatan, buktinya sejak 10 tahun terakhir ini, ojek-lah yang dominan melayani akses warga Kepulauan Seribu.
Sejarah transportasi di Kepulauan Seribu berawal sekitar tahun 1960. Masa itu, warga menggunakan perahu layar dengan waktu tempuh hampir dua hari karena laju perahu bergantung dengan arah angin dan yang menjadi pelabuhan tujuan adalah Donggala (sekarang Pelabuhan Tanjungpriok, red). Memasuki tahun 1980, warga telah menggunakan kapal bermesin berukuran 15 gt dengan waktu tempuh sekitar 6 jam dengan tujuan yang sama. Namun keduanya tidak memiliki waktu keberangkatan tetap karena spesifikasinya adalah membawa barang kebutuhan warga pulau.
Awal tahun 1990, warga memulai membuka jalur angkutan reguler dengan menggunakan kapal kayu yang didisain untuk penumpang dan barang yang belakangan dikenal kapal ojek. Kala itu, tujuan sandar bukan lagi ke Pelabuhan Donggala, namun ke Pelabuhan Mauk dan Kronjo Tangerang, Banten. Seiring dengan kebutuhan dan angkutan warga meningkat, PT Angkutan Sungai Danau, dan Penyeberangan (ASDP) pada tahun 1996 mulai membuka rute reguler dengan mengadakan kapal Feri Betok di empat pulau pemukiman yakni Pulau Kelapa, Pramuka, Tidung, dan Untung Jawa.
Saat itu, KM Betok mampu melayani kebutuhan warga dengan fasilitas yang memadai dan menjamin kenyamanan penumpang dengan tujuan sandar ke Marina Jaya Ancol dengan waktu tempuh sekitar empat jam perjalanan. Meski begitu, ojek yang dikelola warga tak pernah sepi oleh penumpang, apalagi setelah pada tahun 1998 ojek mulai membuka jalur ke Pelabuhan Muara Angke, Penjaringann Jakarta Utara.
Lambat laun, perhatian warga mulai berpindah kearah ojek karena dengan pertimbangan lebih cepat dan tempat sandar yang lebih memudahkan untuk membeli kebutuhan ojek mulai menjadi pilihan. Karena menurunnya tingkat penumpang PT ASDP mencoba memindahkan tujuan sandar dari Marina Jaya Ancol ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Sayangnya upaya itu tetap tidak membuahkan hasil bahkan penurunannya semakin drastis dan awal tahun 1999 pengoperasionalan KM Betok dihentikan PT ASDP, meski biaya operasional menggunakan Anggaran Pendapatan dan Pembelanjaan Negara (APBN) namun dinilai tidak berimbang antara pendapatan dan pengeluaran.
Tutupnya KM Betok menjadi berkah buat kapal-kapal ojek, sehingga beberapa pengusaha lokal mulai berlomba membuat kapal ojek dengan memberikan kelebihan diantaranya dengan kecepatan kapal, fasilitas penumpang, dan alat-alat keselamatan. Persaingan merebut penumpang pun tak terhindarkan, bahkan pengaturan harga tarif dan waktu keberangkatan menjadi rancu. Pada tahun 2000 saja tiap pulau pemukiman terdapat 5-7 kapal yang melayani rute yang sama dengan waktu hampir berbenturan.
Menghindari gesekan itu, akhirnya para pengusaha ojek sepakat membuat koperasi angkutan tradisional yang difasilitasi oleh Suku Dinas Perhubungan Jakarta Utara. Pada tahun 2001, status pemerintahan pemerintahan Pulau Seribu di rubah menjadi Kabupaten dan tidak lagi menjadi bagian dari Kota Administratif Jakarta Utara. Karena telah memiliki APBD sendiri, Kabupaten Kepulauan Seribu mulai membenahi transportasi sebagai urat nadi perekonomian warga. Apalagi, setelah dicanangkan Kepulauan Seribu sebagai destinasi wisata bahari Jakarta sehingga menuntut pelayanan aksebelitas penumpang bukan hanya warga pulau saja namun banyak para wisatawan lokal yang berkunjung.
Menyiasati itu, pertengahan tahun 2004 melalui Dinas Perhubungan DKI Jakarta, kapal cepat KM Lumba-lumba 1 dan 2 dengan 60 tempat duduk di luncurkan. Dengan fasilitas jauh lebih baik dan tarif yang hampir sama dengan ojek, penumpang mulai berpindah. Sementara ojek hanya digunakan untuk kapal angkut barang dan pengiriman ikan nelayan.
Menyusul berhasilnya KM Lumba-lumba, tahun berikutnya Dinas Perhubungan menambah armada dengan mengoperasikan kapal cepat Kerapu 1 hingga 6 berkapasitas 24 penumpang. Keberadaan ojek semakin mengkhawatirkan, apalagi diiringi dengan naiknya harga Bahan Bakar Minyak menambah kesulitan pengusaha ojek. Penderitaan itu tak berlangsung lama, manajamen pengelolaan KM Lumba-lumba dan KM Kerapu bermasalah, sehingga pada awal 2006 ke delapan kapal cepat itu hanya bisa menghiasi dermaga sandar Marina Ancol.
Sementara itu, bak bangkit dari ketepurukan ojek mulai menjadi transportasi andalan. Saat ini aksebelitas ke Jakarta Daratan baik itu untuk warga dan pengunjung hanya mendapat pilihan satu kalau ingin menghemat uang. Walaupun ada kapal cepat seperti KM Sepa yang melani rute ke Pulau Seribu namun konsumennya tertentu saja. Mau tidak mau Pemkab Kepulauan Seribu mengakui dan mencoba memfasilitasi kebutuhan 34 ojek sebagai alat transportasi berstandar keamanan dan keselamatan. Mulai sistem tiket, penjadwalan, hingga bantuan bahan bakar digelontorkan, padahal beberapa waktu lalu masih ada anggapan ojek sebagai alat transportasi penumpang yang tidak layak.
Sumber : Dinas Perhubungan dan BeritaJakarta.com
Originally posted 2009-10-11 22:10:05. Republished by Blog Post Promoter
