Bom Waktu Pencemaran Teluk Jakarta dan Pulau Seribu

No Comments
Tags:
Posted 28 May 2011 in News, Seputar Pulau Seribu

Bentuk ledakan, antara lain berupa munculnya berbagai macam penyakit, kematian massal biota laut, serta berbagai hal yang dapat mengancam dan berimbas langsung kepada masyarakat, seperti banjir.

Sampah di Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara, tak sekadar berserakan, tapi teronggok-onggok tidak karuan. Tidak hanya di daratan, tapi juga sampai banyak yang berenang-renang di dalam air.

Limbah dari industri juga membuat warna air laut menjadi hitam. Dalam perjalanan dari Pelabuhan Muara Angke menuju Pulau Pari, Kepulauan Seribu, bau sampah dan limbah sangat menyengat hidung. Semakin ke tengah, air terlihat cokelat, terus hijau, dan baru menemukan air yang jernih kebiruan ketika hampir mendekati Pulau Pari.

Menurut catatan, dalam kurun 10 tahun terakhir ini di kedua kawasan tersebut memikul beban polusi akibat banyaknya sampah dan limbah yang 90 persennya berasal dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Dari informasi yang dihimpun Republika, terungkap bahwa setiap hari tidak kurang dari 14 ribu meter kubik sampah masuk ke kedua wilayah perairan di serambi DKI Jakarta itu. Akibatnya, Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu kini mirip tempat pembuangan sampah raksasa.
Sumber pencemaran, selain berasal dari sampah umum, juga akibat kegiatan pembuangan minyak dari perusahaan pengeboran lepas pantai serta kapal-kapal tanker. Dari pantauan pada akhir bulan lalu, kawasan Teluk Jakarta dan Pulau Seribu memerlukan penyelamatan segera jika tidak ingin masyarakat dan lingkungan di sekitarnya hancur.

Pencemaran itu mengakibatkan terancamnya potensi pengembangan pariwisata di Kepulauan Seribu. Dampaknya sudah mulai dirasakan oleh masyarakat, yakni terganggunya mata pencaharian lebih dari 20 ribu warga Kepulauan Seribu yang selama ini menggantungkan hidupnya dari laut, bakau, dan terumbu karang. Bahkan, sejak 2002, produksi ikan nelayan di kawasan ini menurun hingga 38 persen.
Ahmad Fadillah, warga Pulau Pari, mengatakan, ketika pencemaran limbah mencemari Pulau Pari, ia bersama warga lainnya tidak dapat menanam rumput laut selama tujuh bulan. ”Bibit rumput laut tak ada yang dapat dipanen,” ungkapnya.

Polusi dan degradasi
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh pakar kelautan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), pencemaran di kedua kawasan perairan itu didominasi polusi dan degradasi ekosistem. Polusi itu, antara lain berupa silikat yang mencapai 52.156 ton, fosfat 6.741 ton, dan nitrogen 21.260 ton.

Tingginya tingkat pencemaran juga mengakibatkan pengurangan kawasan bakau dan terumbu karang di kedua perairan tersebut. Untuk wilayah perairan dengan jarak kurang dari 15 kilometer dari pantai, misalnya, terumbu karangnya hanya tersisa kurang dari lima persen. Sedangkan untuk jarak 15-20 kilometer dari pantai, tinggal 5-10 persen dan pada jarak 20 kilometer, tinggal 20-30 persen.

Berdasarkan data dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup (Bapedal) DKI Jakarta, tingkat pencemaran di Teluk Jakarta hingga Kepulauan Seribu saat ini dalam kondisi sangat kronis. Setidaknya 83 persen dari 13 daerah anak sungai dan sembilan kawasan muara sungai kini masuk dalam kategori tercemar berat.

Akibat banyaknya sampah yang bermuara di Teluk Jakarta, kawasan perairan ini sudah ditetapkan ke dalam status eutrofik atau dapat meledak sewaktu-waktu. Bentuk bom waktu ini, antara lain berupa munculnya berbagai macam penyakit, kematian massal biota laut, serta berbagai hal yang dapat mengancam dan berimbas langsung kepada masyarakat, seperti banjir.

Kesadaran rendah
Menumpuknya sampah di Teluk Jakarta diakibatkan oleh perilaku masyarakat yang dengan seenaknya membuang sampah ke sungai dan terbawa mengalir sampai ke laut. Bila melintas di pinggiran sungai Ibu Kota, dapat disaksikan bagaimana masyarakat dengan tanpa rasa bersalah membuang limbah rumah tangganya ke sungai tersebut.
Bahkan, berdasarkan data Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, setiap harinya terdapat tambahan rutin 27.966 meter kubik atau setara dengan 6.000 ton sampah. Berbagai jenis sampah ini berasal dari cakupan wilayah yang mencapai 650 kilometer persegi dengan tingkat kepadatan 11.244 jiwa per kilometer persegi, dengan rata-rata satu orang menghasilkan 2,97 liter sampah per hari.

Dari keseluruhan sampah itu, 90 persennya langsung dibuang di 13 aliran sungai. Akibatnya, 13 sungai di Jakarta mengalami pencemaran yang parah dan–bersama air–sampah-sampah ini bermuara ke perairan Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu. Pengelolaan terpadu yang belum terealisasi dengan baik menjadi kendala utama penanganan sampah tersebut.

Melihat kondisi pencemaran yang semakin parah tersebut, diperlukan gerakan penyelamatan segera yang masif. Sudah saatnya pemerintah serius dalam bertindak.

Membersihkan Sampah di Laut hingga Menanam Bakau
Untuk menanggulangi sampah yang kian marak di laut, Marinebuddies melakukan coral clean up (diving)/coastal clen up, akhir bulan lalu. Kegiatan ini untuk membersihkan terumbu karang dari sampah plastik dan sampah lainnya, dengan 12 orang penyelam yang dibagi dalam dua regu. Regu pertama menyisir sisi barat dan yang lainnya menyisir sisi timur.

Marinebuddies juga melakukan bersih-bersih pantai yang dilakukan oleh empat regu, dengan menyisir sampah dari pantai ujung barat Pulau Pari. Aksi ini melibatkan warga sekitar untuk mengumpulkan sampah dan memilahnya menjadi beberapa kategori: sampah plastik bening, sampah plastik berwarna, sampah styrofoam, sampah karet (sepatu/sandal), dan sampah lainnya.

Pemilihan jenis-jenis sampah merupakan bagian dari pengamatan banyaknya sampah di sekitar Pulau Pari. Warga juga diberikan pengarahan tentang pengolahan sampah.

Sampah-sampah yang dipilah, dianalisis sebagai bagian dari pengamatan, meliputi penghitungan berat, kuantitasnya, lokasi pengambilan, dan lainnya. Setelah itu, diserahkan kepada pengepul sampah di Pulau Pari.

Warga setempat merasa senang. Tokoh masyarakat Pulau Pari, Susbiyanto, mengatakan, kegiatan ini sangat positif bagi warganya. ”Warga di sini merasa diberi pengalaman yang tak ternilai,” katanya.

Ia berharap, kegiatan tersebut tidak seremonial belaka. Warga dan masyarakat luas di wilayah pesisir laut mestinya tergugah kesadarannya untuk tidak membuang sampah di laut.

Abrasi dan ombak tinggi
Selain sampah yang marak di laut, isu abrasi juga sangat perlu diperhatikan. Buddies, panggilan anggota Marinebuddies, bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), melakukan penanaman pohon bakau di pesisir Kelurahan Pulau Pari, Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Jakarta.

Puluhan anggota bersama insan pers yang meliput, ikut menanam pohon tersebut. Lokasinya sekitar 30 meter dari dataran Pulau Pari.Koordinator Marinebuddies, Aulia Rahman, menyebutkan, abrasi merupakan isu yang cukup diperhatikannya. Tingginya ombak dan cuaca yang tidak menentu, menjadi ancaman bagi warga kepulauan kecil. Dan, bakau merupakan biota penting untuk menjaga wilayah pesisir Pulau Pari.

”Di sinilah fungsi akar pohon bakau, yaitu sebagai penahan abrasi dan ombak tinggi. Juga, sebagai tempat ikan memijah dan berkembang biak,” kata Aulia.

Amelia, salah satu anggota Marinebuddies, mengatakan, penanaman pohon ini pengalaman pertama kali baginya. Menurut dia, pohon ini sangat bermanfaat bagi alam dan masyarakat sekitar.
Penanaman pohon bakau dimulai dengan menggali pasir yang berada di bawah air laut. Kemudian, batangnya ditanam dengan batang bambu yang ditancapkan di sampingnya, kemudian keduanya diikat dengan tali rapia.

Malam harinya, warga Pulau Pari disuguhi film tentang konservasi laut. Film diyakini sebagai salah satu media komunikasi yang efektif bagi khalayak umum. ”Materi audio visual kali ini adalah film-film WWF (World Wildlife Fund, sebuah badan konservasi lingkungan global) bertema laut,” kata Aulia.

Puluhan warga dari umur tiga tahun hingga ibu-ibu rumah tangga di Pulau Pari memenuhi lapangan SD-SMP satu atap Pulau Pari. Mereka berdatangan untuk menonton film-film tersebut.

Beberapa judul yang diputar, antara lain Turtle Trail yang diproduksi oleh Sea Turtle Fondation dengan sulih suara Surya Saputra (salah satu suporter kehormatan WWF-Indonesia). Rangkaian film selanjutnya adalah tentang Derawan, Berau, Kalimantan Timur, yang dibintangi oleh musisi Nugie, serta film pendek tentang penyu di Kepulauan Wakatobi yang juga dibintangi Nugie.

Soal perikanan mendominasi pemutaran film tersebut. Ada juga film tentang tangkapan sampingan serta industri perikanan tuna di Indonesia.

Di akhir acara pemutaran film, panitia memberikan pertanyaan bagi anak-anak yang menonton film-film tersebut. ”Film-film ini adalah materi edukasi tentang kondisi kelautan di dunia, khususnya di Indonesia,” kata Aulia menandaskan.

(Sumber : Republika, Jumat/10 Juli 2009)

Originally posted 2009-08-27 10:39:41. Republished by Blog Post Promoter


Add Your Comment