Belakangan ini, nelayan Kepulauan Seribu merasakan hasil tangkapanya terus berkurang. Untuk mengatasi kesulitan nelayan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Administrasi Kep Seribu mengembangkan konsep budidaya. Hasilnya, 75 persen warga Kep Seribu yang berprofesi sebagai nelayan tangkap, 10 persen-nya mulai beralih ke nelayan budidaya.
Masa peceklik ikan kembali menghantui nelayan Kep Seribu. Sepekan ini, nelayan selalu tanpa mendapatkan hasil. Padahal, untuk melaut nelayan harus mengeluarkan modal ekstra besar. Misalnya saja nelayan muroami yang membutuhkan biaya Rp 400 ribu sekali melaut, sedangkan hasil yang didapat kadang tidak memenuhi biaya selama sehari tersebut.
Seperti dituturkan Syahrullah (41), nelayan muroami warga RT 02/04 Kelurahan Pulau Panggang. Kenaikan harga BBM memengaruhi harga kebutuhan bahan pokok, sehingga biaya hidup semakin membengkak. Biasanya sekali melaut cukup bermodal Rp 200 ribu kini membengkak jadi Rp 400 ribu. Biaya tersebut, untuk kebutuhan bahan bakar kapal, serta bahan makanan selama melaut bagi delapan orang nelayan dalam satu kapal.
“Sepekan ini tangkapan menurun, bahkan ada nelayan yang tidak dapat, biaya besar yang kita keluarkan terbuang percuma” ungkapnya usai mengikuti dialog interaktif bersama anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta di Pulau Pramuka, Kamis (10/7). Ia melanjutkan, menurunnya daya tangkap ikan sepekan belakangan ini telah disampaikan kepada anggota DPRD saat acara dan jawaban yang didapatnya informasi tersebut akan di koordinasikan ke Bupati Kepulauan Seribu.
Menanggapi permasalahan yang dihadapi nelayan, Abdul Rachman Andit, Bupati Kepulauan Seribu, mengatakan, konsep budidaya menjadi solusi tepat untuk menanggulangi masalah berkurangnya jumlah penangkapan. Saat ini dari 75 persen nelayan di Kepulauan Seribu, sekitar 10 persen telah beralih profesi dari tangkap ke budidaya. “Program pengalihan pola tangkap ke budidaya berjalan baik sesuai dengan target,” katanya.
Target yang ditetapkan, disesuaikan dengan hasil kajian akademis pihak PKSPL-IPB (Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Laut-Institut Pertanian Bogor) selaku lembaga penelitian dan pendamping program. “Pada tahun 2010, nelayan Kepulauan Seribu semoga dapat bertahan ketika mengalami kesulitan seperti saat ini,” tandas mantan Kepala Badan Perencanaan Kabupaten (Bapekab) Kepulauan Seribu yang pada empat tahun lalu turut membidangi program seafarming atau budidaya ikan.
Originally posted 2009-08-21 08:11:46. Republished by Blog Post Promoter
