Setengah tahun terakhir, berbagai jenis sampah mengepung sepanjang pesisir Pulau Panggang dan Pulau Pramuka di Kepulauan Seribu. Akibatnya, keelokan wisata di wilayah ini tak lagi kelihatan.
Karena kondisi itu, dua pulau itu kini tak ubahnya sebagai wilayah tak bertuan.
Yang nampak kini ialah sampah plastik, potongan kayu, ranting, eceng gondok, puntung rokok, dan batu timbul menghampar di sepanjang tepi laut. Ditambah lagi aroma tak sedap menyeruak kemana-mana. Terutama tercium bagi mereka yang baru tiba dengan naik perahu.
Padahal, selama ini daerah itu menyimpan panorama alam yang luar biasa dan menarik bagi wisatawan. Pada waktu masih jaya-jayanya, setiap hari, tak henti-hentinya turis, baik lokal dan mancanegara datang. Baik sekedar melihat-lihat kekayaan alam atau menginap di Pulau Pramuka, Kelurahan Pulau Panggang.
Tapi keadaan telah terbalik. Sedikit-demi sedikit pupularitas pulau ini menurun.
Tragisnya lagi, warga setempat yang sebenarnya sangat menginginkan terjaganya kelestarian alam, ternyata tidak dapat berbuat banyak dengan keadaan ini.
Sejumlah warga Pulau Panggang yang ditemui VIVAnews mengungkapkan perubahan pemandangan ini berawal dari tidak beroperasinya kantor suku dinas yang berkerja di bidang kebersihan sejak 2009.
Warga tidak tahu apa yang terjadi dengan dinas itu. Yang jelas, sejak suku dinas ini tidak beroperasi lagi, biaya operasional sehari-hari untuk kapal dan kendaraan pembersih sampah laut pun terhenti. Dan kapal itu hanya diparkir di sebelah selatan Pulau Panggang.
Tak hanya itu, alat-alat pengolahan sampah bantuan dari Pemerintah Provinsi pun kena imbas. Mesin pembakar sampah (isolator), dua kapal laut, motor darat untuk pengangkut sampah kini buruk sekali nasibnya. Isolator tidak lagi berfungsi, satu unit kapal laut telah karam, dan mesin sepeda motor rusak.
Ketiadaan dana untuk perawatan kendaraan inventaris pemerintah yang bernilai ratusan juta rupiah itu, membikin 14 tenaga honorer di Pulau Panggang yang semula diberi tanggung jawab merawat kendaraan operasional, angkat tangan.
Ke-14 tenaga honorer itu kini seperti tenaga sukarela saja. Mereka tidak diberikan honor lagi. Tapi tetap diminta untuk tetap menjaga barang inventaris.
Kalaupun ada perawatan terhadap kapal, itupun mereka lakukan sebatas kemampuan. Misalnya hanya mengelap badan kapal. Tapi untuk memanasi kapal, mereka tidak sanggup lagi karena tentunya harus pakai bahan bakar. Sementara tidak ada uang untuk itu.
Warga setempat juga harus bekerja keras sendirian untuk membersihkan pantai dan lingkungan pulau. Karena bagaimanapun daerah ini milik mereka. Tapi, hasilnya tentu saja tidak maksimal. Karena sampah pantai yang harusnya dibersihkan dengan bantuan kapal, sekarang hanya dilakukan dengan tangan biasa yang tentunya daya jangkaunya sangat terbatas.
Gara-gara sampah ini pula, baru-baru ini baling-baling kapal yang ditumpangi rombongan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo macet. Sebab terjerat sampah laut.
Itu pengalaman menarik yang menurut warga harusnya jadi pembelajaran.
Apapun yang terjadi di sana, kini untungnya masih ada warga yang peduli dengan lingkungan walau kemampuan mereka sangat terbatas. Sampah-sampah di darat, seperti plastik, puntung rokok, maupun sampah lainnya yang dibuang wisatawan, juga mereka bersihkan sendiri. Sampah ini kemudian ditimbun di dekat Dermaga Pulau Panggang. Padahal, pada waktu isolator masih beroperasi, sampah-sampah ini dibakar untuk dijadikan pupuk kompos.
Warga tidak ingin keadaan ini berlangsung terus, mengingat walaupun jumlahnya tidak sebanyak dulu, wisatawan masih saja ada yang berdatangan setiap hari ke Pulau Panggang dan Pulau Pramuka.
Warga setempat hanya minta Fauzi Bowo untuk betul-betul memperhatikan masalah ini jika ingin keelokan Pulau Panggang dan Pulau Pramuka tetap lestari.
• VIVAnews
Originally posted 2010-03-04 16:46:08. Republished by Blog Post Promoter
