BERITAJAKARTA.COM — 17-08-2009 15:22
Peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke-64 dimeriahkan dengan berbagai acara. Salah satunya, pamentasan wayang Betawi di halaman Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Kuninganbarat, Jakarta Selatan, Minggu (178) malam. Dengan mengusung cerita Pandu Pergola, seluruh penonton tak kuasa menahan tawa mendengar banyolan-banyolan yang dibawakan dalang Ki Haji Surya Bonang, putra dalang kawakan wayang Betawi, Bonang Supadma.
Betapa tidak, berawal dari sebuah negeri bernama Tanjungkarang Karoban, Ki Haji Surya Bonang menyuguhkan cerita bahwa negeri kaya raya ini baru dipimpin raja muda bernama Prabu Anom. Celakanya, tiba-tiba sang raja dilanda krisis kepercayaan diri. Bahkan, sampai ia berpikir untuk mengundurkan diri sebagai raja karena khawatir tidak bisa memimpin rakyatnya dengan baik. Di tengah kebimbangan itu, Prabu Anom memanggil begawan kerajaan benama Sidik Mulia, yang tak lain adalah pamannya sendiri. Ia meminta nasehat dan pertimbangan terkait rencananya dari sang begawan tersebut.
Dalam perbincangan itu, sang begawan tidak menyetujui rencana Prabu Anom. Sebab, sang raja belum memiliki keturunan dan rakyat juga dalam kondisi susah. Jika hal itu dipaksakan, maka akan terjadi kekosongan kekuasaan dan rakyat pasti akan semakin sengsara. Karenanya, Begawan Sidik Mulia menyarankan agar sang Prabu Anom tidak mengundurkan diri.
“Kalau rakyat susah, raja harus merasa susah juga. Pemimpin harus merasakan penderitaan rakyat, jangan menjadi setan. Setan itu, kerjanya cuma mengganggu manusia, karena setan asalnya dari api. Tapi, tidak ada setan kita juga pasti repot karena bisa-bisa kita makan beras. Gimana tidak, orang masak kan butuh api,” kata dalang Ki Haji Surya Bonang, memplesetkan nasehat begawan Sidik Mulia, hingga membuat penonton tertawa.
Kendati sudah mendapat nasehat, namun Prabu Anom tetap saja gelisah karena terus dilanda krisis kepercayaan diri. Melihat sang raja terus gelisah, sang begawan kemudian memberikan saran alternatif, yakni meminta Prabu Anom untuk mencari jodoh agar mendapatkan keturunan. Dengan maksud, jika sudah mendapatkan keturunan barulah sang raja bisa mengundurkan diri. Sehingga, tahta kerajaan ada yang meneruskan.
Sayangnya, usaha sang raja mencarian jodoh ternyata tidak berjalan mulus. Lagi-lagi, sang begawan yang juga paman sang raja dari garis ibu itu, terus menyatakan tidak setuju. Karenanya, Prabu Anom semakin bingung. Betapa tidak, saat pilihan pertama disampaikan, sang begawan menyatakan tidak setuju. Sebab, gadis yang akan dipersunting sang raja ternyata anak tukang pembuat arang kayu bakar. Kemudian, sang raaja menjatuhkan pilihan kedua, sang begawan juga tidak setuju. Sebab, gadis cantik berilbab pilihan sang raja itu anaknya tukang ojek. Lantaran kesal, sang raja menjatuhkan pilihan ketiga pada gadis cantik anak tukang panjak (Dalang-red). Dan lagi-lagi sang paman menolak.
“Alo…! (keponakanku-red) panjak itu tukang jalan dan ke mana aja dia pernah mendalang pasti dia kawin. Jadi jangan kau peristri anak dalang, karena saudaranya banyak…” cetus ki dalang disambut tawa penonton. Lantas, sang raja menjatuhkan pilihan keempat pada seorang perempuan bernama Siti Ragen, tetapi sang begawan juga menolak. Sebab, Siti Ragen istri Ki Semar dari Karang Tumaritis. “Jangan kau peristri perempuan yang sudah bersuami, walaupun suaminya sudah tua macam Ki Semar yang sering terkena penyakit encok,” ledek ki dalang lagi.
Banyolan-banyolan yang dilontarkan dalang membuat penonton tidak beranjak hingga larut malam. Terlebih, nyanyian sinden dan permainan instrumen gambang kromong dari Sanggar Marga Juwita Jagakarsa makin membuat suasana pertunjukan meriah.
Andri, warga Mampangprapatan, mengaku senang dengan pertunjukan wayang Betawi ini. Terlebih dirinya baru pertama kali menyaksikan pertunjukan kesenian asli Betawi ini. “Saya kirain yang ada wayang cuma Jawa saja, ternyata wayang Betawi juga ada. Ini menandakan bangsa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang tidak kalah dari bangsa asing,” katanya.
Ketua Korpri Unit Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Jaman Subiandono, yang juga selaku panitia, mengatakan, pertunjukan wayang Betawi ini di samping untuk mengenalkan budaya Betawi kepada masyarakat Jakarta, juga dimaksudkan sebagai hiburan untuk menyambut HUT RI ke 64. “Pertunjukan ini berkat kerja sama antara Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta dengan Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Cabang Jakarta. Semoga dengan pertunjukan ini membuat warga yang menonton terhibur, dan bisa mengenal lebih dekat lagi warisan budaya kita,” harapnya.
Originally posted 2009-08-21 16:52:03. Republished by Blog Post Promoter
