Meraih kemerdekaan bukanlah pekerjaan mudah. Butuh sikap pantang menyerah, berani mati, dan harus mengedepankan rasa nasionalisme yang tinggi. Jika kita menengok 64 tahun lalu, sikap-sikap patriotisme inilah yang membawa bangsa Indonesia meraih kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Karena itu, sudah sepatutnya jika generasi penerus menghargai jasa para pahlawan nasional.
Sayangnya, seiring dengan perkembangan zaman dan derasnya arus globalisasi, sikap-sikap patrotisme yang tertanam dalam diri setiap pejuang kemerdekaan itu tidak terpatri dengan baik dalam diri generasi penerus. Euforia kemerdekaan hingga hedonisme terus mengikis sikap-sikap patriotisme itu. Bahkan, di tengah krisis multidimensi akhir-akhir ini, rasa nasionalisme sebagai bangsa Indonesia terkesan pudar.
Melihat kondisi yang demikian memprihatinkan ini, sebagian orang hanya bisa melampiaskan kerinduan itu dengan mengoleksi barang-barang antik peninggalan tempo dulu. Dengan harapan, nilai-nilai patriotisme dan nasionalisme itu bisa tumbuh kembali saat barang-barang saksi sejarah itu dipamerkan. Seperti komunitas Pecinta Ontel Indonesia (POI) yang memamerkan koleksinya pada Festival Kota Tua, Sabtu (15/8) lalu.
Dalam acara tersebut, tak kurang dari 40 sepeda buatan tahun “Jebot” turut memeriahkan festival yang baru pertama kali digelar Jakarta Barat itu. Tio Drajat, pemilik sepeda ontel jenis Hercules mengatakan, sepeda buatan tahun 1937 ini sengaja ia rawat untuk mengingatkan nilai-nilai perjuangan tempo dulu. Sebab, sudah banyak generasi muda yang lupa akan nilai-nilai patriotisme saat perjuangan kemerdekaan.
“Sepeda tertua jenis Hercules limited ini pabrikan Birmingham England tahun 1937. Sepeda ini dulu milik Sastro, seorang tentara pelajar di Yogyakarta. Dulunya sepeda ini digunakan untuk mengangkut bahan makanan saat perang kemerdekaan terjadi. Karena itu, sepeda ini bisa mengingatkan kita betapa beratnya perjuangan tempo dulu,” ujar Tio yang juga sebagai Ketua POI.
Selain melestarikan sejumlah sepeda tua, klub yang berdiri pada 18 maret 2006 ini juga mereplika sepeda motor pertama yang diciptakan William S Harley dan Arthur Davidson, sang maestro Harley Davidson. Mengingat kendaraan ini pernah ada di Indonesia, namun kini sudah tidak bisa ditemukan lagi. “Untuk membuatnya kita memerlukan barang-barang kuno dari berbagai daerah. Jadi butuh waktu lama, sehingga hasil replika bisa mendekati sempurna,” kata Tio.
Misalkan saja, untuk tempat bensin didapat dari toko barang antik di Purworejo. Kemudian, bagasi di dapat dari sebuah pabrik penyemprot hama. Sedangkan mesinnya menggunakan Hinda 70 CC. “Dan untuk mendapatkan kesan klasik pada rangka, kita menjemurnya di alam terbuka. Sehingga timbul kesan tua dan usang,” ungkapnya.
Dengan adanya pelestarian dan pembuatan replika ini, Tio beraharap generasi penerus bangsa bisa menanamkan nilai-nilai perjuangan tempo dulu untuk mengisi kemerdekaan. Sebab, seluruh perjuangan para pahlawan kemerdekaan tidak bisa diukur dengan materi. Dirgahayu Indonesia.
Originally posted 2009-08-28 11:19:00. Republished by Blog Post Promoter
